-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tak Sekadar Kritik, Sundawani Beri 'Tamparan' Moral untuk Pemerintah Daerah di Milangkala ke-19

8/03/2026 | 19:36 WIB
Bandung – Perayaan Milangkala ke-19 Paguyuban Sundawani Indonesia di Bumi Sangkuriang, Kota Bandung, Minggu (2/8/2026), tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan pelestarian budaya Sunda. Momentum tersebut juga berubah menjadi panggung kritik tajam terhadap pemerintah daerah yang dinilai kurang memberikan perhatian kepada organisasi kemasyarakatan berbasis budaya.

Di hadapan pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Sundawani Indonesia se-Jawa Barat, Ketua Umum DPP Sundawani Indonesia, Iwan Gumelar, menegaskan bahwa Sundawani akan terus berdiri sebagai organisasi independen yang mengedepankan kontrol sosial, membela kepentingan masyarakat kecil, serta menjaga nilai-nilai budaya Sunda.

Menurutnya, selama 19 tahun perjalanan organisasi, Sundawani tetap berpegang teguh pada pesan pendiri Sundawani Indonesia, Lucky Lesmana atau yang akrab dikenal sebagai Aa Kiki Medfo, yakni menjaga semangat kebersamaan melalui falsafah Silih Asah, Silih Asuh, dan Silih Wangi.

Ia juga mengingatkan seluruh anggota agar selalu berani menyuarakan kebenaran, namun tetap menjunjung tinggi etika dan restu orang tua.

«"Jangan pernah melupakan jasa orang tua, khususnya ibu. Keberanian harus dibarengi doa dan penghormatan kepada mereka," ujar Iwan Gumelar, Senin (3/8/2026).»

Dalam kesempatan tersebut, Iwan meminta seluruh DPD Sundawani Indonesia aktif memberikan masukan, kritik, maupun pengawasan terhadap jalannya pemerintahan di daerah masing-masing.

Menurutnya, organisasi kemasyarakatan tidak boleh hanya menjadi penonton, melainkan harus hadir sebagai mitra kritis yang tetap mengedepankan budaya dan kepentingan masyarakat.

«"Intinya harus independen dan berani membela kepentingan masyarakat kecil," tegasnya.»

Soroti Ketidakhadiran Pejabat Pemerintah
Pernyataan paling tajam disampaikan saat Iwan menyinggung absennya sejumlah pejabat Pemerintah Kota Bandung maupun Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam peringatan Milangkala ke-19 Sundawani Indonesia.

Ia mengaku kecewa karena tidak hadirnya Wali Kota Bandung, Wakil Wali Kota Bandung, maupun Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat dinilai mencerminkan minimnya kepedulian terhadap organisasi yang selama ini aktif dalam kegiatan sosial, kemanusiaan, dan pelestarian budaya.

Menurutnya, Sundawani kerap turun langsung membantu masyarakat, termasuk saat terjadi bencana alam maupun persoalan sosial lainnya. Namun, perhatian pemerintah terhadap organisasi tersebut dinilai belum sebanding dengan kontribusi yang telah diberikan.

«"Bentuk perhatian tidak ada. Padahal kami selalu memberikan atensi terhadap setiap permasalahan di masyarakat, termasuk membantu korban bencana alam," ujarnya.»

Ia menambahkan, pemerintah seharusnya mampu melihat gerakan kebudayaan sebagai bagian penting dalam membangun karakter masyarakat.

«"Niat Paguyuban Sundawani murni untuk peduli kepada masyarakat, menjaga budaya, dan lingkungan. Pemerintah sebagai pengayom seharusnya memahami hal itu. Namun kenyataannya, perhatian terhadap gerakan kebudayaan dan aksi kemanusiaan kami masih terasa diabaikan," katanya.»

Tegaskan Komitmen Menjaga Budaya dan Masyarakat

Memasuki usia ke-19, Paguyuban Sundawani Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjaga marwah organisasi sebagai wadah pelestarian adat istiadat Sunda sekaligus menjadi garda terdepan dalam kontrol sosial.

Bagi Sundawani, Milangkala tahun ini bukan sekadar perayaan hari jadi, tetapi juga momentum menyampaikan pesan kepada pemerintah bahwa pelestarian budaya, kepedulian sosial, dan keberpihakan kepada masyarakat kecil membutuhkan sinergi nyata, bukan sekadar simbol maupun seremoni.

Ke depan, organisasi berharap komunikasi dan kolaborasi antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan berbasis budaya dapat semakin diperkuat demi menjaga nilai-nilai lokal sekaligus menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.**(Ivan Sukenda).
×
Berita Terbaru Update