OKU TIMUR, INFONASIONALNEWS.MY.ID – Pendidikan tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas. Di halaman SMAN 1 Semendawai Timur, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan, Sabtu (3/10/2026), para siswa justru belajar melalui pengalaman langsung: memilih pemimpin, memainkan drama, menyampaikan pesan sosial hingga menjual produk hasil kreativitas sendiri.
Dalam satu panggung kegiatan, demokrasi, seni dan kewirausahaan dipertemukan melalui Gelar Karya Kokurikuler SMAN 1 Semendawai Timur.
Mengusung tema “Berani Bersuara, Kreatif Berkarya, Inovatif Berwirausaha”, kegiatan tersebut melibatkan siswa kelas X, XI dan XII dengan fokus pembelajaran yang berbeda.
Kelas X belajar demokrasi melalui pemilihan ketua dan wakil ketua OSIS. Kelas XI mengekspresikan gagasan melalui seni dan drama. Sementara kelas XII menguji kreativitas sekaligus kemampuan bisnis melalui stan makanan dan minuman.
Bukan sekadar pertunjukan, seluruh rangkaian kegiatan dirancang sebagai pengalaman belajar yang menempatkan siswa sebagai pelaku utama.
Bukan Sekadar Seremoni
Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, kemudian doa yang dipimpin guru SMAN 1 Semendawai Timur, Munawar, S.Pd.I.
Setelah itu, Gelar Karya secara resmi dibuka Kepala SMAN 1 Semendawai Timur, Hermanto, S.Pd., M.Kes.
Dalam sambutannya, Hermanto memberikan apresiasi kepada dewan guru, tenaga kependidikan, panitia OSIS, siswa, komite sekolah, orang tua serta seluruh pihak yang mendukung kegiatan.
Ia menegaskan bahwa Gelar Karya Kokurikuler bukan kegiatan yang hanya mengejar kemeriahan.
Di balik penampilan siswa, terdapat proses perencanaan, pembagian tugas, kerja sama, kreativitas hingga tanggung jawab.
“Semua kegiatan membutuhkan perencanaan yang matang. Melalui proses perencanaan inilah anak-anak belajar bekerja sama, bergotong royong, mengembangkan kreativitas dan membangun integritas,” ujar Hermanto.
Pernyataan tersebut menjadi gambaran bahwa kegiatan kokurikuler ditempatkan sebagai bagian dari proses pendidikan, bukan sekadar agenda tambahan sekolah.
Tiga Kelas, Tiga Wajah Pembelajaran
Pembagian kegiatan berdasarkan jenjang kelas membuat Gelar Karya kali ini memiliki warna tersendiri.
Siswa kelas X membawa tema “Suara Demokrasi”.
Mereka belajar memahami proses pemilihan ketua dan wakil ketua OSIS. Mulai dari menyampaikan aspirasi, mengenal pilihan, menghadapi perbedaan pendapat hingga menerima hasil pemilihan.
Sementara siswa kelas XI mengambil ruang kreativitas melalui pentas seni dan drama.
Berbagai cerita dipentaskan dengan mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Sedangkan kelas XII memasuki ruang yang berbeda. Mereka belajar menjadi pelaku usaha melalui stan makanan dan minuman.
“Jadi hari ini lengkap, kelas X belajar demokrasi, kelas XI menampilkan kreativitas seni, dan kelas XII belajar kewirausahaan. Semuanya merupakan bagian dari proses pembelajaran,” jelas Hermanto.
Dengan pola tersebut, siswa tidak hanya belajar tentang konsep, tetapi juga mengalami langsung prosesnya.
Seni Tidak Hanya Soal Tampil di Atas Panggung
Pentas seni dan drama menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian besar.
Para siswa kelas XI tampil dengan berbagai cerita.
Salah satu drama mengangkat kehidupan pasar tradisional. Para siswa menggambarkan aktivitas masyarakat dan transaksi jual beli dengan suasana kehidupan pasar pada masa lalu.
Drama lainnya mengangkat persaingan perdagangan barang-barang antik dan kebutuhan rumah tangga.
Ada pula penampilan yang mengangkat persoalan penjualan kosmetik berbahaya.
Cerita-cerita tersebut dikemas dengan pendekatan kreatif sekaligus menyisipkan pesan edukatif dan moral.
Di titik ini, panggung bukan hanya menjadi tempat siswa menunjukkan kemampuan akting.
Panggung menjadi ruang bagi mereka untuk menyampaikan gagasan.
Mereka belajar bahwa sebuah cerita dapat membawa pesan, sebuah karakter dapat menggambarkan persoalan sosial, dan sebuah pertunjukan dapat menjadi media komunikasi.
Penampilan para siswa mendapat sambutan dari guru, orang tua, tamu undangan dan sesama siswa.
Namun di balik tepuk tangan penonton, terdapat proses panjang yang menjadi bagian penting dari pembelajaran: latihan, pembagian karakter, penyusunan cerita, kerja sama hingga keberanian tampil di hadapan banyak orang.
Ubi dan Jagung Naik Kelas Menjadi Produk Usaha
Suasana berbeda terlihat pada stan kewirausahaan siswa kelas XII.
Berbagai makanan dan minuman ditawarkan kepada pengunjung.
Bahan-bahan seperti ubi dan jagung diolah menjadi produk makanan dan minuman dengan kreativitas siswa.
Para siswa juga berupaya menggunakan bahan alami tanpa bahan pengawet dan pewarna tambahan.
Stan-stan tersebut tidak sekadar menjadi tempat menjajakan makanan.
Di sana siswa belajar bagaimana sebuah produk diperkenalkan kepada konsumen.
Mereka harus berkomunikasi dengan pembeli, memberikan pelayanan, menjaga kualitas produk hingga melakukan transaksi.
Antusiasme pengunjung cukup tinggi. Tamu undangan, guru maupun siswa terlihat membeli produk yang ditawarkan hingga sebagian besar makanan dan minuman yang disediakan habis terjual.
Pengalaman tersebut memberi pelajaran sederhana tetapi penting membuat produk hanyalah satu bagian dari kewirausahaan. Menjual, melayani konsumen dan membangun kepercayaan juga merupakan bagian dari prosesnya.
Demokrasi Dimulai dari Lingkungan Sekolah
Sementara itu, siswa kelas X mendapatkan pengalaman berbeda melalui tema “Suara Demokrasi”.
Pemilihan ketua dan wakil ketua OSIS menjadi sarana bagi siswa untuk mengenal proses demokrasi dalam lingkup yang dekat dengan kehidupan mereka.
Mereka belajar menyampaikan aspirasi, menghargai perbedaan pilihan dan menerima hasil pemilihan berdasarkan mekanisme yang telah ditetapkan.
Proses pemilihan telah dilaksanakan dan hasilnya disahkan sesuai mekanisme yang berlaku di lingkungan sekolah.
Pembelajaran demokrasi tersebut menjadi penting karena demokrasi tidak hanya berbicara mengenai proses memilih.
Ada tanggung jawab di dalamnya.
Ada perbedaan yang harus dihormati.
Ada keputusan yang harus diterima bersama.
Dan ada kewajiban menjaga hubungan baik setelah proses pemilihan berakhir.
Kepala Sekolah Soroti Perkembangan Sekolah
Di tengah kegiatan, Hermanto juga menyampaikan perkembangan SMAN 1 Semendawai Timur.
Menurutnya, jumlah peserta didik dan rombongan belajar mengalami perkembangan dalam beberapa tahun terakhir.
Pertumbuhan tersebut menjadi bagian dari tantangan sekolah untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan.
Dari sisi sarana dan prasarana, sekolah juga terus melakukan pembenahan.
Salah satunya melalui dukungan pemerintah berupa program revitalisasi sekolah yang saat ini telah memasuki tahap akhir pengerjaan.
Namun, masih terdapat sejumlah kebutuhan yang perlu dipenuhi, termasuk pembangunan pagar sekolah dan peningkatan fasilitas ruang belajar.
“Kami berharap sarana dan prasarana yang masih kurang dapat dipenuhi secara bertahap melalui kerja sama sekolah, komite, orang tua, masyarakat dan pemerintah,” kata Hermanto.
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan sekolah membutuhkan dukungan banyak pihak.
Sekolah menjadi pusat kegiatan pendidikan, tetapi keberlanjutannya juga berkaitan dengan kepedulian pemerintah, komite, orang tua dan masyarakat.
Komite Dorong Siswa Siap Menghadapi Kehidupan Nyata
Ketua Komite SMAN 1 Semendawai Timur, Nazir, menyampaikan apresiasi terhadap perkembangan sekolah, termasuk pembangunan dan prestasi siswa.
Menurutnya, kegiatan seperti Gelar Karya memberikan pengalaman yang dapat memperluas cara berpikir siswa.
Lebih dari itu, pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal ketika siswa menyelesaikan pendidikan dan masuk ke lingkungan masyarakat.
“Kegiatan seperti ini tentunya untuk meningkatkan daya pikir siswa, terutama bagaimana setelah keluar dari SMA nanti mereka bisa hidup mandiri,” ujarnya.
Nazir juga menyampaikan bahwa kebutuhan pembangunan pagar sekolah perlu menjadi perhatian bersama.
Menurutnya, sinergi sekolah, komite, orang tua, masyarakat dan pemerintah diperlukan untuk mendukung kebutuhan tersebut.
Ketua OSIS: Kreativitas Siswa Melampaui Ekspektasi
Ketua OSIS SMAN 1 Semendawai Timur, Fitri Nurhidayah, menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang berarti bagi para siswa.
Menurutnya, kewirausahaan memberikan pelajaran tentang kemandirian dan kreativitas.
Sementara kegiatan demokrasi mengajarkan siswa untuk memahami dan menghargai perbedaan pendapat.
Pentas seni juga menjadi ruang bagi siswa untuk menyalurkan bakat.
“Melalui pementasan drama, bakat seni seluruh siswa dapat tersalurkan dengan luar biasa. Bahkan setiap pementasan drama memberikan pesan moral yang positif,” ungkap Fitri.
Ia mengatakan kegiatan tersebut berjalan melebihi ekspektasi karena semangat dan kreativitas siswa terlihat sepanjang acara.
Fitri juga menyampaikan terima kasih kepada Kepala SMAN 1 Semendawai Timur Hermanto, S.Pd., M.Kes., jajaran wakil kepala sekolah, dewan guru, panitia OSIS dan seluruh siswa yang ikut menyukseskan kegiatan.
“Semoga OSIS ke depan dapat menghadirkan inovasi kegiatan yang lebih kreatif dan seluruh warga sekolah tetap menjaga kekompakan agar event berikutnya berjalan lebih sukses dan memberikan dampak positif,” harapnya.
Sinergi Sekolah, Orang Tua dan Pemerintah
Gelar Karya Kokurikuler tersebut turut dihadiri Kepala SMAN 1 Semendawai Timur Hermanto, S.Pd., M.Kes., perwakilan Camat Semendawai Timur Viktor Andesku, S.E., Ketua Komite Nazir, kepala desa, perwakilan orang tua dan wali murid kelas X, XI dan XII, di antaranya Wiwik Rokhaniah, Ermawati, Haryanto dan Siti Ngatiyem.
Hadir pula dewan guru, staf, tenaga kependidikan dan tamu undangan lainnya.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib, lancar dan meriah.
Namun, yang menjadi catatan penting dari kegiatan tersebut bukan semata-mata kemeriahan acara.
Ada proses pendidikan yang berlangsung di baliknya.
Ketika siswa kelas X menjalankan pemilihan OSIS, mereka belajar tentang demokrasi.
Ketika siswa kelas XI tampil di panggung, mereka belajar tentang keberanian, kreativitas dan komunikasi.
Ketika siswa kelas XII menjual produk, mereka belajar tentang usaha, pelayanan dan kemandirian.
Tiga kegiatan berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama memberikan pengalaman kepada siswa agar lebih siap menghadapi kehidupan di luar sekolah.
Dari Sekolah untuk Kehidupan
Gelar Karya Kokurikuler SMAN 1 Semendawai Timur pada akhirnya menjadi gambaran bahwa pendidikan tidak hanya tentang nilai yang tercatat di atas kertas.
Ada karakter yang dibangun melalui kerja sama.
Ada keberanian yang tumbuh ketika siswa tampil di depan publik.
Ada kedewasaan yang muncul ketika mereka berhadapan dengan perbedaan pilihan.
Dan ada kemandirian yang dilatih ketika mereka mencoba menjual produk hasil kreativitas sendiri.
Tema “Berani Bersuara, Kreatif Berkarya, Inovatif Berwirausaha” pun mendapatkan makna melalui praktik.
Berani bersuara bukan sekadar berbicara, tetapi belajar menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.
Kreatif berkarya bukan hanya menghasilkan pertunjukan, tetapi berani mengolah ide menjadi sesuatu yang dapat dinikmati dan dipelajari orang lain.
Sedangkan inovatif berwirausaha bukan sekadar menjual makanan, melainkan belajar melihat peluang, menciptakan produk dan berinteraksi dengan konsumen.
Di halaman SMAN 1 Semendawai Timur hari itu, sekolah seolah menjadi miniatur kehidupan masyarakat.
Ada proses memilih.
Ada perbedaan.
Ada kreativitas.
Ada transaksi.
Ada kerja sama.
Dan ada tanggung jawab.
Semua berlangsung dalam satu ruang pembelajaran.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah Gelar Karya bukan hanya diukur dari ramainya penonton atau habisnya produk yang dijual.
Nilai yang lebih penting adalah pengalaman yang dibawa pulang oleh siswa.
Sebab ketika kegiatan selesai dan panggung dibongkar, proses pendidikan justru diharapkan terus berjalan—melalui sikap, keterampilan, keberanian dan pengalaman yang mereka bawa dalam kehidupan sehari-hari.
SMAN 1 Semendawai Timur telah menjadikan Gelar Karya bukan sekadar panggung pertunjukan, melainkan ruang bagi siswa untuk belajar menjadi bagian dari kehidupan nyata.
Laporan Wartawan Info Nasional News, Agustian


