Bandung Infonasionalnews — Suasana haru dan tegang menyelimuti kawasan Jalan Eyckman-Sukajadi, Kota Bandung, Selasa (12/5/2026), saat puluhan lapak pedagang kaki lima (PKL) dibongkar oleh petugas gabungan dari Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DBMPR) Provinsi Jawa Barat bersama Satpol PP Kota Bandung.
Pembongkaran tersebut disaksikan langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang turun ke lokasi untuk memantau penertiban bangunan semi permanen yang berdiri di atas trotoar dan fasilitas publik.
Kehadiran orang nomor satu di Jawa Barat itu langsung menyita perhatian warga dan pengendara yang melintas di kawasan Eyckman-Sukajadi. Banyak warga berhenti sejenak, merekam proses pembongkaran menggunakan telepon genggam, hingga memadati pinggir jalan untuk menyaksikan jalannya penertiban.
Pemerintah menilai bangunan kios para pedagang melanggar aturan karena berdiri di area trotoar yang seharusnya diperuntukkan bagi pejalan kaki.
Namun di balik proses penertiban tersebut, tersimpan kisah pilu para pedagang yang kehilangan tempat mencari nafkah.
Salah satunya Jumai (50), pedagang ayam penyet yang hanya bisa pasrah melihat kios miliknya dihancurkan satu per satu oleh petugas. Atap seng roboh, papan kayu patah, sementara etalase dagangan berserakan di jalan.
Di tengah reruntuhan kiosnya, Jumai tampak memunguti barang-barang yang masih bisa diselamatkan, mulai dari piring plastik, termos minuman, hingga sendok makan. Matanya tampak memerah menahan sedih.
“Ini mendadak banget, tidak ada informasi langsung sama Pak Dedi,” ujar Jumai lirih.
Bagi Jumai, kios sederhana di trotoar Eyckman bukan sekadar tempat berjualan. Dari lokasi itulah ia membesarkan anak-anak dan menopang kehidupan keluarganya selama bertahun-tahun.
Puluhan tahun lalu, ia memulai usaha hanya dengan gerobak kecil, hingga akhirnya berkembang menjadi kios sederhana beratap seng yang ramai didatangi mahasiswa, pegawai kantor, hingga pengemudi ojek online di kawasan Sukajadi.
Tak jauh dari lokasi tersebut, pedagang bakso bernama Parto juga mengalami nasib serupa. Kios bakso yang sudah ia tempati lebih dari 20 tahun dihancurkan alat berat di depan matanya.
Dentuman ekskavator menghantam dinding kios terdengar keras, bercampur suara kayu retak dan seng yang terlepas dari atap bangunan.
“Saya sudah 20 tahun di sini. Dulu sempat dipindah sama Wali Kota Ridwan Kamil ke sini,” kata Parto.
Ia mengaku sempat ditanya langsung mengenai modal awal usaha baksonya oleh Gubernur Jawa Barat.
“Tadi ditanya modal jualan bakso berapa, saya jawab Rp2 juta, langsung dikasih Rp2 juta,” ungkapnya.
Sejumlah pedagang lain mengaku ada yang menerima uang kompensasi sekitar Rp2 juta. Namun hingga kini, mereka masih belum mendapatkan kepastian terkait relokasi tempat usaha baru.
Penertiban lapak PKL di kawasan Eyckman-Sukajadi ini pun memunculkan beragam reaksi dari masyarakat. Sebagian mendukung langkah pemerintah dalam menata trotoar dan fasilitas publik, sementara sebagian lainnya berharap ada solusi manusiawi bagi para pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari lokasi tersebut.(Ivan Sukenda).**
.jpg)








