Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

ITB Turun Tangan Atasi Darurat Sampah Bandung, Sampah Organik Diolah Jadi Gizi dan Sumber Ekonomi

5/14/2026 | 13:09 WIB
Bandung Infonasionalnews — Persoalan sampah di Kota Bandung yang kian mengkhawatirkan kini mendapat perhatian serius dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Bersama Pemerintah Kota Bandung, ITB turun langsung memperkuat penanganan sampah melalui monitoring dan pengembangan sistem pengolahan berbasis teknologi dan ekonomi sirkular di kawasan bawah Jalan Layang Pasopati, Kecamatan Tamansari, Rabu (13/5/2026).

Kolaborasi tersebut melibatkan Sekretaris Daerah Kota Bandung Iskandar Zulkarnain, Sekda Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman, Dinas Lingkungan Hidup, aparat kewilayahan, penyuluh sampah hingga para akademisi ITB.

Wakil Rektor ITB, Agus Jatnika menegaskan, persoalan sampah di Bandung tidak bisa lagi berhenti pada sebatas diskusi dan wacana tanpa aksi nyata.

“Kalau wacana rasanya sudah puluhan tahun kita bicarakan. Sekarang tinggal bagaimana eksekusi. ITB diberi amanat menjadi fasilitator agar penanganan sampah ini bisa segera berjalan,” ujar Agus.

Menurutnya, berbagai teknologi pengolahan sampah sebenarnya sudah lama dikembangkan di lingkungan kampus dan kini siap diterapkan langsung di masyarakat.

Beberapa inovasi yang diperkenalkan antara lain pengolahan styrofoam menjadi produk baru, sampah plastik menjadi brick block, hingga pengolahan sampah organik berbasis ekonomi sirkular komunitas.

Salah satu konsep yang menarik perhatian datang dari pengembangan budidaya maggot dan peternakan ayam berbasis sampah organik.

Akademisi FMIPA ITB, Adlinus menjelaskan, melalui konsep “apartemen ayam dan maggot”, sampah organik diolah menjadi pakan maggot, kemudian maggot dimanfaatkan sebagai pakan ayam. Hasil telur dari peternakan tersebut dibagikan kepada masyarakat sekitar.

“Dari sampah menjadi gizi. Jadi ada ekonomi yang berputar di masyarakat,” katanya.

Model tersebut dinilai mampu mengurangi volume sampah organik secara signifikan sekaligus menciptakan manfaat ekonomi dan ketahanan pangan warga.

Sementara itu, Dosen SBM ITB, Melia Famiola menilai tantangan terbesar saat ini bukan lagi pada teknologi pengolahan sampah, melainkan membangun pola pikir masyarakat agar melihat sampah sebagai sumber daya ekonomi.

“Selama ini sampah masih dianggap masalah sosial dan kerja voluntarisme. Padahal sampah bisa menjadi raw material dan membuka ekonomi baru,” ujarnya.

ITB juga tengah mendorong konsep circular activator atau penggerak ekonomi sirkular berbasis komunitas dan startup yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Di sisi lain, Sekda Kota Bandung Iskandar Zulkarnain mengungkapkan kondisi sampah di Kota Bandung saat ini sudah berada dalam tekanan berat.

Produksi sampah harian Kota Bandung mencapai sekitar 1.600 hingga 1.700 ton per hari. Namun kapasitas pengiriman ke TPA Sarimukti hanya sekitar 980 ton per hari.

“Kebayang sisanya mau dikemanakan. Itu menjadi tantangan besar bagi kami,” ujar Iskandar.

Pemkot Bandung sendiri telah melakukan berbagai upaya mulai dari penggunaan insinerator, RDF, program Gaslah, komposter hingga penguatan pengelolaan sampah mandiri di tingkat RW dan kelurahan.

Namun menurutnya, persoalan terbesar saat ini adalah pengolahan akhir sampah setelah proses pemilahan dilakukan masyarakat.

Karena itu, kolaborasi dengan ITB diharapkan menjadi titik percepatan penanganan sampah sekaligus membangun sistem ekonomi sirkular yang berkelanjutan di Kota Bandung.

Selain penanganan teknis, forum tersebut juga mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui penguatan social engineering dan pembangunan platform komunikasi antar pengelola sampah se-Kota Bandung.

Kawasan bawah Pasopati yang selama ini identik dengan area kumuh bahkan didorong menjadi etalase pengelolaan sampah modern berbasis komunitas.

Kini publik menanti sejauh mana kolaborasi Pemkot Bandung dan ITB mampu menjawab persoalan sampah yang selama ini menjadi masalah klasik Kota Kembang.(Ivan Sukenda).**
×
Berita Terbaru Update