OKU TiIMUR, INFONASIONALNEWS – Program ketahanan pangan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Desa Sri Jaya, Kecamatan Belitang II, Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan, yang bersumber dari Dana Desa Tahun 2025, saat ini tengah berjalan dengan pengelolaan ternak kambing.
Program tersebut dikelola oleh BUMDes Desa Sri Jaya dengan jumlah ternak sebanyak 34 ekor kambing. Pengelolaan kegiatan ketahanan pangan tersebut dipercayakan kepada Kauatdi selaku pengelola ternak kambing di bawah naungan BUMDes desa setempat.
Namun, dalam perjalanannya, beberapa ekor kambing dilaporkan mengalami kematian. Dari total ternak yang ada, sekitar tujuh ekor kambing diketahui mati di dalam kandang.
Mengetahui kejadian tersebut, pihak pengelola BUMDes segera melaporkan kondisi tersebut kepada Kepala Desa Sri Jaya, Herman Budionto, melalui Sekretaris Desa Abdul Wahid. Laporan menyebutkan bahwa beberapa kambing ditemukan mati secara mendadak di kandang.
Setelah menerima laporan, perangkat desa kemudian meninjau langsung lokasi kandang kambing. Dari hasil pengecekan di lapangan, memang benar ditemukan beberapa ekor kambing dalam kondisi mati.
Diduga, kematian ternak tersebut disebabkan oleh faktor cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini, di mana hujan turun secara terus-menerus sehingga menimbulkan suhu dingin yang berpotensi memengaruhi kondisi kesehatan ternak.
Saat dikonfirmasi awak media, Kepala Desa Sri Jaya melalui Sekretaris Desa Abdul Wahid, A.Md.Kom, membenarkan adanya laporan terkait kematian kambing dalam program ketahanan pangan BUMDes tersebut.
“Benar, kami menerima laporan dari pengelola BUMDes bahwa ternak kambing yang menjadi bagian dari program ketahanan pangan mengalami kematian sebanyak tujuh ekor,” ujarnya melalui sambungan telepon seluler pada Rabu (11/03).
Ia menjelaskan bahwa dugaan sementara penyebab kematian kambing tersebut adalah kondisi cuaca ekstrem berupa hujan yang terjadi terus-menerus sehingga menimbulkan udara dingin.
“Untuk sementara diduga karena cuaca ekstrem hujan dan suhu yang cukup dingin, sehingga berdampak pada kesehatan ternak,” jelasnya.
Pihak pemerintah desa berharap ke depan pengelolaan ternak dapat ditingkatkan, terutama dalam hal perawatan dan antisipasi perubahan cuaca, baik pada musim hujan maupun musim kemarau.
“Kami berharap ke depan bisa diantisipasi lebih baik lagi, terutama dalam menghadapi pergantian cuaca, sehingga perawatan ternak dapat lebih optimal,” pungkasnya.
Agustian








