KAB.TASIKMALAYA,Infonasional.news - Ketua Wahana Lingkungan dan Pendidikan Sosial (WALPIS), Riyan Nurfalah menyampaikan keprihatinan mendalam terkait kondisi Masjid Agung Baiturohman Kabupaten Tasikmalaya yang dinilainya tidak mendapatkan perhatian serius dalam hal pemeliharaan. Dalam keterangannya kepada media, Riyan Nurfalah menyayangkan kurangnya kepedulian pemerintah daerah terhadap rumah ibadah yang menjadi ikon keagamaan dan pusat aktivitas umat Islam di wilayah tersebut. Senin ( 07/07/2025 )
"Masjid Agung adalah simbol spiritual dan kebanggaan masyarakat Kabupaten Tasikmalaya. Namun kenyataannya, kondisi fisik masjid banyak yang tidak terurus, mulai dari kebersihan, kerusakan bangunan, hingga fasilitas umum yang tidak terawat."ucapnya
Sambung Riyan mempertanyakan transparansi dan realisasi anggaran pemeliharaan masjid yang seharusnya dianggarkan setiap tahun. Menurutnya, perlu ada penelusuran dan audit menyeluruh terhadap penggunaan dana yang dialokasikan untuk pemeliharaan Masjid Agung tersebut.
"Icon kabupaten tasikmalaya itu tasik yang religius tapi kunaon masjid teu di urus. Kami meminta kepada pemerintah daerah, khususnya pihak yang berwenang mengelola anggaran rumah ibadah, untuk menjelaskan ke publik "ke mana anggaran pemeliharaan Masjid Agung selama ini? Jangan sampai rumah ibadah sebesar ini hanya jadi icon di atas kertas, tapi terabaikan dalam praktiknya," ujarnya
WALPIS juga mengingatkan bahwa pembiaran terhadap kondisi masjid yang rusak dan kumuh bukan hanya mencoreng wajah keagamaan daerah, tetapi juga menunjukkan lemahnya komitmen birokrasi terhadap pelayanan publik berbasis spiritual dan sosial.
Riyan Nurfalah menegaskan, jika dalam waktu dekat tidak ada tindak lanjut atau penjelasan resmi dari pihak terkait, WALPIS akan mempertimbangkan langkah advokasi lebih lanjut, termasuk pelaporan ke lembaga pengawasan dan aksi massa."pungkasnya
Sementara itu salah satu pedagang setempat yang berjualan di sekitaran Masjid Agung Baiturohman mengeluhkan akan kepengurusan pengelolaan DKM dan pemerintahan setempat.
"Saya mengeluhkan pengelolaan ini, bukan hanya saya saja pedagang yang lain juga mengeluhkan akan kepengurusan ini, setiap hari di pungut biaya retribusi 5000 per hari dan biaya listrik 15.000 perminggu,sedangkan untuk alat permainan anak anak dikenakan tarif 80.000 perminggu oleh pengelola pedagang, akan tetapi ketika kami mengeluhkan koslet listrik pun tidak di perbaiki oleh pengelola,kemanakan biaya yang setiap hari kami kasih ke pengelola,kami hanya butuh keselamatan untuk berjualan biar kami berjualan bisa tenang, kami disini mencari nafkah untuk keluarga,mohon kepada pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya beri kami tempat yang layak untuk berjualan."ucap pedagang saat di temui awak media
(Rus)
Tags
BERITA