Bandung Infonasionalnews - Pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Pasar Cicadas dan Kosambi memasang spanduk protes menyusul wacana pembangunan jalur BRT (Bandung Rapid Transit) di jalan arteri kawasan tersebut. Spanduk tersebut menyuarakan kekhawatiran apabila mereka tempat berjualan mereka tergusur seiring dengan pembangunan jalur transportasi itu.
Koordinator PKL di Pasar Cicadas, Cecep menuturkan, keresahan para pedagang timbul karena belum adanya titik terang menyangkut masa depan mereka. Padahal menurutnya, ia telah mengikuti beberapa kali rapat.
“Saya belum ada jawaban dari pemerintah terkait. Terus, yaudah kita buka aja (plang pemberitahuan pembangunan jalur BRT), lalu dipasang bacaan-bacaan kayak gitu (spanduk protes),” kata dia.
Adapun titik terang yang ia maksud, adalah soal kepastian apakah para pedagang tersebut bakal direlokasi atau diberi kompensasi terkait pembangunan jalur. Pernyataan terkait itu aku Cecep belum ia terima, walaupun untuk sosialisasi sempat mengikuti pertemuan pada November 2025.
“Cuman membahas pembangunan BRT akan dibangun, kawasan Cicadas,” ucapnya.
“Ada 540, udah saya setor ke kecamatan itu datanya, sudah disetor ke kecamatan,” kata dia.
Ia menambahkan, para PKL akan manut terhadap kebijakan pemerintah. Termasuk untuk apa bila direlokasi ke tempat lainnya. Dia mengatakan, yang diharapkan para pedagang semata kejelasan terkait nasib mereka.
“Kita setuju-setuju aja kalau ada tempat itu, mau-mau aja. Tapi selama ini nggak ada. Makanya jalan satu-satunya antara relokasi dan kompensasi. Kalau kompensasi kan, kita misalkan udah nggak jualan lagi, dikasih kompensasi. Kita bisa jualan di mana, ada modal, gitu aja,” imbuh dia.
Pembangunan jalur khusus dan depo Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya rencananya akan dilakukan Kementerian Perhubungan pada Januari 2026 ini. Meski begitu, proyek yang didanai World Bank tersebut sejauh ini belum tersosialisasikan kepada masyarakat.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung Rasdian Setiadi mengatakan, pembangunan depo BRT akan dilakukan di Terminal Cicaheum dan Leuwipanjang. Namun, perubahan fungsi Terminal Cicaheum menjadi depo BRT menuai penolakan masyarakat.
"Leuwipanjang tidak ada masalah, tapi Cicaheum yang harus kita antisipasi. Walaupun, kalau saya perhatikan dari Kemenhub melalui Project Management Consultan (PMC) World Bank sudah membuat pemberitahuan melalui spanduk gitu," kata Rasdian, Senin 5 Januari 2026.
Menurutnya, di sejumlah ruas jalan yang akan dilalui BRT telah ada spanduk pembangunan koridor atau fasilitas BRT. Kendati demikian, pemasangan spanduk tersebut tidak dibarengi dengan sosialisasi langsung kepada masyarakat di jalur BRT.
"Artinya, pertemuan langsung dengan masyarakat belum dilakukan, sosialisasinya hanya dari spanduk-spanduk saja. Di Cicaheum itu harus disosialisasikan, harus disaksikan langsung oleh masyarakat, karena di situ ada yang terdampak," kata Rasdian.
Perubahan fungsi Terminal Cicaheum menjadi depo BRT, tutur dia, berdampak terhadap para pedagang hingga bus antarkota dalam provinsi (AKDP) maupun antarkota antarprovinsi (AKAP). Apalagi, menurut dia, proyek depo BRT sudah mulai dilelangkan.
Sementara itu, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, belum lama ini mengungkapkan akan menyiapkan mitigasi untuk sejumlah masalah terkait proyek BRT. berdasarkan pengalaman di berbagai kota perubahan sistem transportasi massal kerap memicu penolakan, terutama dari pelaku usaha yang khawatir kehilangan pelanggan.
Langkah yang ditempuh antara lain dengan mempercepat penyediaan kantong parkir alternatif serta melakukan sosialisasi secara bertahap kepada masyarakat dan pelaku usaha.
“Kita tidak menutup mata. Toko-toko bisa terdampak kalau tidak disiapkan solusi parkir yang layak,” katanya.
Karena itu, Pemerintah Kota Bandung berjanji akan bersikap proaktif dalam mengantisipasi dampak tersebut. Farhan menegaskan, Pemkot Bandung akan tetap menjalankan perannya untuk memastikan seluruh upaya mitigasi risiko dilakukan secara optimal.
“Tanggung jawab kami adalah menyiapkan solusi sekaligus menjaga komunikasi melalui dialog yang berkelanjutan,” katanya.
BRT sendiri merupakan sistem transportasi massal berbasis bus yang dirancang untuk melayani mobilitas masyarakat secara cepat, efisien, melalui penggunaan jalur khusus di kawasan Bandung Raya. Ada enam rute yang disiapkan Leuwipanjang–Soreang, Kota Baru Parahyangan–Alun-Alun Bandung, Baleendah–BEC melalui Jalan Purnawarman, Leuwipanjang–Dago, Dipatiukur–Jatinangor, serta Leuwipanjang–Majalaya.
Tags
berita