BANDUNG, Infonasionalnews — Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Bandung Kiwari menghadapi lonjakan kunjungan pasien sepanjang September 2026. Dalam 21 hari pertama bulan ini, tercatat 2.860 pasien datang untuk mendapatkan pelayanan medis.
Jika dirata-ratakan, jumlah tersebut mencapai sekitar 136 pasien setiap hari yang harus ditangani tim IGD.
Direktur Utama RSUD Bandung Kiwari, dr. Arief Budiman, mengatakan tingginya kunjungan tidak seluruhnya berasal dari pasien dengan kondisi kegawatdaruratan. Sebagian pasien datang ke IGD karena berharap mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih cepat.
«“Jadi yang mungkin ingin disampaikan, ingin cepat ditangani. Kekhawatiran-kekhawatiran tadi, saya kira kalau pasien anak biasanya orang tuanya yang khawatir,” kata Arief saat ditemui wartawan di RSUD Bandung Kiwari, Rabu (23/9/2026).»
61 Persen Pasien Harus Masuk Rawat Inap
Dari total kunjungan pada periode 1–21 September 2026, sekitar 61 persen pasien yang datang ke IGD harus melanjutkan perawatan ke ruang rawat inap.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap kamar perawatan meningkat. Akibatnya, pasien yang telah mendapat penanganan di IGD terkadang harus menunggu sebelum dapat dipindahkan ke ruang rawat inap.
Dalam sehari, rata-rata terdapat sekitar 10 pasien yang masuk dalam daftar tunggu kamar perawatan.
Jumlah antrean tertinggi terjadi pada 12 September 2026, ketika sebanyak 23 pasien belum dapat segera dipindahkan ke ruang rawat inap karena keterbatasan ketersediaan kamar.
IGD Tetap Buka, Pasien Tidak Ditolak
Meski menghadapi lonjakan kunjungan dan keterbatasan tempat tidur, Arief memastikan pelayanan IGD RSUD Bandung Kiwari tetap berjalan.
Rumah sakit, kata dia, tidak menutup akses pelayanan bagi pasien yang datang.
Setiap pasien tetap menjalani pemeriksaan awal melalui proses triase untuk menentukan tingkat kegawatan serta prioritas penanganan.
«“Di tengah lonjakan ini, kami tidak pernah menutup pintu. Bagi siapa pun pasien yang datang, tetap kami periksa dan disiplin sesuai dengan kegawatan melalui proses triase,” tegas Arief.»
Melalui sistem triase, pasien dengan kondisi kritis atau yang mengancam keselamatan jiwa akan mendapatkan prioritas penanganan.
Sementara pasien dengan kondisi lebih ringan dan stabil akan mendapatkan pelayanan sesuai kebutuhan medisnya.
Pasien Triase Hijau Bisa ke Poli Rawat Jalan
Arief juga mengingatkan masyarakat bahwa tidak semua kondisi kesehatan harus ditangani melalui IGD.
Pasien yang masuk kategori triase hijau, atau kondisi yang relatif ringan dan stabil, pada dasarnya dapat memperoleh pelayanan melalui fasilitas rawat jalan.
«“Ketika itu triase hijau, maka sesungguhnya bisa dilayani dan lebih cepat di poli rawat jalan,” ujarnya.»
Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian rumah sakit di tengah tingginya kunjungan IGD. Pemanfaatan layanan sesuai tingkat kebutuhan medis diharapkan dapat membantu menjaga kapasitas IGD agar tetap optimal dalam menangani pasien yang benar-benar membutuhkan pertolongan segera.
Lonjakan kunjungan sepanjang September ini sekaligus menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan. Di sisi lain, sistem triase menjadi bagian penting untuk memastikan pasien dengan kondisi paling gawat tetap memperoleh prioritas penanganan.**(Ivan Sukenda).
