Tekan Beban TPA, Pemkot Bandung Bidik Pengurangan Sampah Organik hingga 20 Persen




BANDUNG, INFONASIONALNEWS.MY.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memperkuat strategi pengelolaan sampah dari hulu dengan menargetkan pengurangan sampah organik yang dibawa ke tempat pemrosesan akhir (TPA) hingga 20 persen. Salah satu langkah yang disiapkan adalah memperluas pengolahan sampah berbasis masyarakat melalui pembangunan kompos pit di tingkat rukun warga (RW).


Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, pengendalian sampah harus dimulai dari sumbernya agar beban pengangkutan dan penanganan di TPA dapat dikurangi secara bertahap.


“Untuk isu sampah memang tugas kami sekarang 100 persen di hulu. Kenapa? Karena untuk bisa mengurangi tekanan ke TPA, maka hulunya juga mesti dikontrol,” ujar Farhan, Kamis (15/10/2026).


Menurut Farhan, pengelolaan sampah di tingkat kewilayahan menjadi bagian penting dari upaya membangun sistem penanganan sampah yang lebih efektif. Masyarakat tidak hanya didorong untuk memilah sampah, tetapi juga mengolah sampah organik agar tidak seluruhnya berakhir di TPA.


Kapasitas Pengolahan Organik Ditargetkan 200 Ton per Hari

Pemkot Bandung saat ini mengandalkan program Gaslah sebagai salah satu upaya memperkuat pengelolaan sampah dari sumbernya. Selain membantu penanganan sampah, program tersebut berperan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pemilahan dan pengolahan sampah.


Kapasitas pengolahan sampah organik melalui program tersebut saat ini mencapai sekitar 70 ton per hari. Pemkot Bandung menargetkan kapasitasnya meningkat hingga 200 ton per hari.


Peningkatan kapasitas itu diharapkan dapat memperbesar volume sampah organik yang ditangani sebelum masuk ke sistem pengangkutan menuju TPA.



Pemkot Bandung juga membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mahasiswa diharapkan dapat membantu proses pemilahan dan pengolahan sampah di lingkungan masyarakat.


Farhan menyebut uji coba pelibatan mahasiswa di Kecamatan Arcamanik menunjukkan hasil yang sangat baik. Model tersebut akan diterapkan kembali di sejumlah wilayah lain di Kota Bandung.


“Percobaan di Arcamanik berhasil dengan sangat baik, maka kita akan replikasi di beberapa tempat lain,” katanya.


Setiap RW Direncanakan Memiliki Tiga Kompos Pit

Selain memperkuat program Gaslah dan kolaborasi dengan perguruan tinggi, Pemkot Bandung berencana mendorong pembangunan kompos pit di tingkat RW.


Fasilitas pengolahan sampah organik tersebut dirancang memiliki ukuran sekitar 1 x 1 meter dengan kedalaman kurang lebih 2 meter.


Dengan jumlah RW di Kota Bandung yang mencapai sekitar 1.600, pemerintah merencanakan pembangunan tiga kompos pit di setiap RW. Jika seluruh rencana terealisasi, jumlah fasilitas tersebut diproyeksikan mencapai sekitar 4.800 titik.


Kompos pit akan digunakan untuk menampung dan mengolah sampah organik yang telah dipilah dari sumbernya. Dengan sistem tersebut, sebagian sampah diharapkan dapat diselesaikan langsung di lingkungan permukiman tanpa harus diangkut ke TPA.


Meski demikian, keberhasilan penerapan sistem ini akan bergantung pada kesiapan lokasi, pengelolaan fasilitas, serta kedisiplinan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.


Target 120–150 Ton Sampah Organik Ditangani di Tingkat RW

Farhan menjelaskan, timbulan sampah Kota Bandung mencapai sekitar 1.600 ton per hari. Dari jumlah tersebut, Pemkot Bandung menargetkan sekitar 120 hingga 150 ton sampah organik per hari dapat ditangani di tingkat RW.


Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi untuk menekan jumlah sampah yang harus diangkut ke TPA sekaligus memperkuat tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan sampah.


“Tujuannya ke sana. Insyaallah target kita bisa mengurangi sampai 20 persen sampah organik yang dibawa ke TPA,” tutur Farhan.


Target pengurangan tersebut membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah kewilayahan, petugas pengelola sampah, perguruan tinggi, hingga masyarakat.


Pemilahan sampah organik dan anorganik dari rumah tangga menjadi langkah awal yang menentukan efektivitas pengolahan di tingkat RW. Tanpa pemilahan yang konsisten, fasilitas pengolahan berpotensi tidak dapat berfungsi secara optimal.


Melalui penguatan pengolahan sampah dari hulu, Pemkot Bandung berharap tekanan terhadap TPA d AQapat berkurang secara bertahap. Namun, pencapaian target pengurangan hingga 20 persen nantinya perlu ditunjang pelaksanaan program yang konsisten serta pengukuran hasil pengolahan sampah secara berkala.**(Ivan Sukenda).
Lebih baru Lebih lama