BANDUNG, INFONASIONALNEWS – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan meminta pelaksana proyek Bus Rapid Transit (BRT) membuka jadwal dan rincian pekerjaan kepada masyarakat. Langkah ini dinilai penting agar warga dapat mengantisipasi dampak pembangunan, terutama kemacetan dan gangguan terhadap aktivitas sehari-hari.
Permintaan tersebut muncul di tengah keresahan masyarakat atas pekerjaan BRT di sejumlah ruas jalan Kota Bandung. Salah satu keluhan yang menjadi perhatian adalah beredarnya konten yang memperlihatkan ambulans terhambat akibat aktivitas proyek di kawasan Jalan Cicadas.
Farhan menegaskan, keluhan masyarakat bukan sekadar masukan biasa, melainkan telah menjadi perhatian resmi Pemerintah Kota Bandung.
“Saya sudah melihat konten yang menunjukkan ambulans terhambat akibat pekerjaan BRT di Jalan Cicadas. Semua masukan masyarakat itu menjadi perhatian resmi Pemkot Bandung,” ujar Farhan, Selasa (20/10/2026).
Jadwal Pekerjaan Diminta Terbuka dalam Sepekan
Farhan menyampaikan, dalam waktu satu minggu ke depan, dirinya akan meminta tim pelaksana BRT menyampaikan jadwal serta rincian tahapan pekerjaan secara terbuka kepada masyarakat.
Menurutnya, informasi tersebut diperlukan agar warga, pengendara, pedagang, dan pengguna jalan memiliki kepastian mengenai lokasi pekerjaan, tahapan pembangunan, serta potensi gangguan lalu lintas yang mungkin terjadi.
Ia juga menegaskan bahwa sejak Februari 2026, dirinya telah mengingatkan agar pelaksanaan proyek BRT dilakukan secara tertib dan memperhitungkan dampaknya terhadap aktivitas masyarakat.
Pembangunan transportasi publik, kata Farhan, seharusnya memberikan manfaat bagi warga. Karena itu, pelaksanaannya tidak boleh mengabaikan kelancaran lalu lintas maupun akses masyarakat terhadap layanan penting, termasuk akses bagi kendaraan darurat.
Pekerjaan Berlanjut dari Cicadas hingga Pasar Baru
Adapun urutan kawasan pekerjaan yang disampaikan meliputi Cicadas, Jalan Jakarta, Jalan Ahmad Yani, Jalan Asia Afrika, Jalan Jenderal Sudirman, hingga Jalan Rajawali dan Pasar Baru.
Dengan cakupan pekerjaan di sejumlah ruas strategis tersebut, keterbukaan informasi mengenai jadwal dan pengaturan lalu lintas menjadi penting. Masyarakat membutuhkan informasi yang jelas agar dapat menyesuaikan perjalanan dan aktivitas usaha selama proyek berlangsung.
Terlebih, gangguan di jalan-jalan utama berpotensi berdampak pada mobilitas warga, kegiatan perdagangan, serta perjalanan kendaraan yang membutuhkan akses cepat.
Sosialisasi kepada PKL Berjalan, Informasi Kemacetan Perlu Diperkuat
Farhan menjelaskan, sosialisasi kepada kelompok masyarakat yang terdampak langsung, khususnya pedagang kaki lima (PKL), telah dilakukan di sejumlah kawasan, termasuk Cicadas.
Sosialisasi tersebut selanjutnya akan dilanjutkan ke kawasan Kebon Jati, Pasar Andir, hingga Pasar Ciroyom.
Meski demikian, Farhan mengakui penyampaian informasi mengenai potensi kemacetan akibat pekerjaan BRT masih perlu ditingkatkan. Sosialisasi tidak cukup hanya menjelaskan pembangunan kepada kelompok yang terdampak, tetapi juga perlu memberikan gambaran mengenai waktu pekerjaan dan kemungkinan perubahan kondisi lalu lintas.
Ke depan, keterbukaan jadwal pekerjaan diharapkan dapat membantu masyarakat mengantisipasi dampak proyek sekaligus mendorong pelaksanaan pembangunan yang lebih tertib.
Pembangunan BRT menjadi bagian dari upaya meningkatkan layanan transportasi publik di Bandung. Namun, keberhasilan proyek ini juga ditentukan oleh bagaimana pekerjaan dilaksanakan tanpa mengabaikan keselamatan, kelancaran mobilitas, dan kepentingan masyarakat yang setiap hari menggunakan jalan.**(Ivan Sukenda).
