BANDUNG, INFONASIONALNEWS – Terminal Ledeng, Kota Bandung, direncanakan dialihfungsikan untuk mendukung pengembangan Bus Rapid Transit (BRT). Kawasan tersebut diproyeksikan menjadi stasiun akhir atau end station layanan BRT sebagai bagian dari upaya pengembangan transportasi massal di wilayah Bandung.
Seiring rencana tersebut, angkutan kota (angkot) dan kendaraan elf yang selama ini beroperasi serta mangkal di Terminal Ledeng telah dialihkan ke simpul terminal Sersan Bajuri.
Pengalihan ini dilakukan untuk menyesuaikan aktivitas angkutan umum dengan rencana pembangunan dan pengoperasian BRT, sekaligus mengantisipasi potensi gangguan terhadap pelayanan transportasi masyarakat.
Pihak terkait menyebut proses pengalihan angkutan telah diselesaikan sehingga tidak menimbulkan penolakan dari sopir maupun pedagang yang beraktivitas di kawasan terminal.
“Untuk angkutan sudah dialihkan ke simpul terminal Sersan Bajuri, jadi semuanya sudah clear dan aman. Jumlah kendaraan ada lima trayek angkot dan elf,” ucapnya.
Lima Trayek Angkot dan Elf Dialihkan
Pemindahan angkutan ke Terminal Sersan Bajuri menjadi salah satu langkah penyesuaian menjelang perubahan fungsi Terminal Ledeng.
Selama ini, kawasan Ledeng menjadi titik aktivitas angkutan umum yang melayani mobilitas masyarakat. Karena itu, pengalihan lokasi operasional perlu disertai pengaturan yang jelas agar sopir tetap dapat menjalankan layanan dan penumpang mengetahui lokasi keberangkatan maupun pemberhentian yang baru.
Penataan tersebut juga penting untuk menjaga konektivitas perjalanan masyarakat, terutama bagi warga yang menggunakan angkutan umum untuk bekerja, bersekolah, maupun menjalankan aktivitas sehari-hari.
Meski pengalihan disebut telah berjalan, informasi mengenai rute, titik naik-turun penumpang, dan jadwal operasional perlu terus disampaikan kepada masyarakat agar tidak terjadi kebingungan selama masa transisi.
Farhan Minta Sosialisasi BRT Terus Dilakukan
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, meminta pihak penyelenggara BRT tetap melakukan sosialisasi terkait rencana alih fungsi Terminal Ledeng.
Menurutnya, komunikasi kepada masyarakat diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan penolakan serta memastikan perubahan fungsi terminal dapat dipahami oleh pihak-pihak yang terdampak.
Sosialisasi menjadi bagian penting dalam pelaksanaan proyek transportasi publik, mengingat perubahan lokasi operasional angkutan dapat memengaruhi kebiasaan perjalanan warga dan aktivitas ekonomi di sekitar terminal.
Pemerintah dan pihak penyelenggara diharapkan memastikan informasi mengenai perubahan tersebut tersampaikan secara terbuka, termasuk kepada sopir, pedagang, serta pengguna angkutan umum.
BRT Diharapkan Perkuat Transportasi Publik Bandung
Rencana menjadikan Terminal Ledeng sebagai stasiun akhir BRT merupakan bagian dari pengembangan sistem transportasi massal yang diharapkan mampu meningkatkan keteraturan perjalanan dan mengurangi ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi.
Dengan layanan yang terintegrasi, BRT diharapkan dapat memberikan pilihan perjalanan yang lebih terjadwal dan menghubungkan berbagai kawasan aktivitas masyarakat.
Namun, keberhasilan pengembangan transportasi massal tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur. Kesiapan titik perpindahan penumpang, keterhubungan dengan angkutan pengumpan, kepastian rute, serta kemudahan akses bagi pengguna juga menjadi faktor penting.
Bagi masyarakat yang biasa menggunakan angkutan dari Terminal Ledeng, kepastian informasi mengenai lokasi pengganti dan pola pelayanan menjadi hal yang perlu diperhatikan sebelum perubahan diterapkan sepenuhnya.
Pemerintah Kota Bandung bersama penyelenggara BRT diharapkan dapat memastikan proses alih fungsi Terminal Ledeng berjalan tertib, tidak mengabaikan kepentingan sopir dan pedagang, serta tetap memberikan kemudahan mobilitas bagi masyarakat.**(Ivan Sukenda).
