Badaya Hadir di Babakan Ciparay, Farhan Siapkan Rumentang Siang Jadi Panggung Seni Sunda Setiap Minggu


BANDUNG, INFONASIONALNEWS – Upaya melestarikan seni budaya Sunda di Kota Bandung tidak cukup hanya dengan menjaga warisan leluhur. Para seniman juga membutuhkan ruang pertunjukan, kesempatan berkarya, dan apresiasi masyarakat agar kesenian tradisional tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan Bandung Utama Ngabudaya (Badaya) yang digelar Pemerintah Kota Bandung di Lapang Parkir Sarana Olahraga, Gang Lapang Tennis 81, Kecamatan Babakan Ciparay, Minggu (25/10/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan rencana menghidupkan kembali Gedung Kesenian Rumentang Siang sebagai ruang pertunjukan seni tradisional. Bahkan, ia menargetkan gedung kesenian tersebut dapat diisi pertunjukan setiap hari Minggu.

Empat jenis kesenian yang disiapkan untuk tampil meliputi wayang golek, jaipongan, pencak silat, dan Kembang Sunda.

“Pokoknya, Rumentang Siang kita penuhi setiap Minggu. Setuju?” ujar Farhan di hadapan masyarakat dan pelaku seni.

Rencana ini menjadi salah satu langkah yang diarahkan untuk memberikan ruang lebih luas bagi seniman sekaligus mendekatkan kesenian tradisional kepada masyarakat.

Farhan menegaskan, seni merupakan bentuk ekspresi budaya yang paling mudah terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Sementara nilai dan norma budaya sendiri telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

“Sebetulnya, budaya itu masuk ke dalam jiwa kita, masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan kita melalui nilai dan norma. Namun, ekspresi yang paling terlihat dari budaya adalah seni. Karena itu, kita harus menghargai seni,” katanya.

Rumentang Siang Disiapkan untuk Pertunjukan Rutin

Dalam rencana tersebut, pertunjukan wayang golek direncanakan berlangsung satu kali setiap bulan. Sementara itu, jaipongan dan Kembang Sunda akan melalui proses seleksi, sedangkan pencak silat turut disiapkan sebagai bagian dari pertunjukan.

Farhan juga meminta perangkat daerah terkait memperhatikan dukungan anggaran agar rencana pemanfaatan Gedung Kesenian Rumentang Siang dapat berjalan.


Ketersediaan panggung yang aktif dan berkelanjutan diharapkan membuka kesempatan bagi para seniman untuk menampilkan karya, memperkenalkan kesenian kepada generasi muda, serta menjaga keberlangsungan tradisi Sunda.

Dengan demikian, pelestarian budaya tidak berhenti pada penyelenggaraan acara seremonial, tetapi dapat berkembang menjadi aktivitas seni yang rutin dan dapat diakses masyarakat.

Badaya Menjangkau Tiga Wilayah Kota Bandung

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, menjelaskan bahwa Badaya merupakan kegiatan untuk memperkenalkan, mengapresiasi, dan melestarikan kekayaan seni budaya yang tumbuh di tengah masyarakat.

Menurut Adi, kegiatan Badaya telah dilaksanakan di tiga wilayah Kota Bandung. Wilayah Bandung Timur sebelumnya menjadi lokasi kegiatan di Kelurahan Rancasari, kemudian Bandung Tengah di Kecamatan Sumur Bandung, dan kali ini Bandung Barat di Kecamatan Babakan Ciparay.

“Dengan demikian, Badaya bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan sekaligus menjadi hiburan bagi warga di sekitarnya,” ujar Adi.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat diperluas pada tahun mendatang dan berpotensi masuk dalam kalender pariwisata Kota Bandung.

Jika dikembangkan secara berkelanjutan, Badaya berpeluang menjadi ruang pertemuan antara pelaku seni, masyarakat, dan sektor pariwisata. Namun, keberlanjutan program juga membutuhkan dukungan terhadap seniman serta penyelenggaraan kegiatan yang konsisten.

Seniman Lokal Punya Potensi yang Perlu Diberi Ruang

Anggota DPRD Kota Bandung, Heri Hermawan, turut mengapresiasi pelaksanaan Badaya. Ia menilai kegiatan tersebut penting untuk menjaga keberlangsungan budaya Sunda, terutama karena kawasan Bandung Kulon, Babakan Ciparay, dan Bojongloa Kidul memiliki banyak pelaku seni.

“Ngabudaya ini sangat luar biasa karena merawat budaya Sunda merupakan tanggung jawab kita bersama,” kata Heri.

Ia berharap kegiatan tersebut terus diselenggarakan sebagai bentuk apresiasi kepada para seniman sekaligus dikembangkan untuk menarik lebih banyak kunjungan masyarakat.

“Masih banyak potensi luar biasa di Kota Bandung terkait dengan budaya Sunda. Mari kita lestarikan budaya Sunda karena merawat budaya Sunda merupakan tanggung jawab kita bersama,” tuturnya.

Melalui Badaya dan rencana menghidupkan kembali Gedung Kesenian Rumentang Siang, Pemkot Bandung mendorong agar seni Sunda tidak hanya dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga memperoleh ruang untuk terus berkembang.

Tantangan berikutnya adalah memastikan rencana pertunjukan rutin dapat terlaksana, seniman memperoleh kesempatan tampil, dan masyarakat memiliki akses yang semakin luas untuk menikmati kesenian tradisional.**(Ivan Sukenda).
Lebih baru Lebih lama